Sabtu, 07 Mei 2011

mpkp

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik keperawatan profesional (MPKP).
“MPKP adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut,”
Saat ini, praktik pelayanan keperawatan di banyak rumah sakit di Indonesia belum mencerminkan praktik pelayanan profesional. Metoda pemberian asuhan keperawatan yang dilaksanakan belum sepenuhnya berorientasi pada upaya pemenuhan kebutuhan klien, melainkan lebih berorientasi pada pelaksanaan tugas.
II.   TUJUAN PENULISAN

1.      UNTUK MEMHAMI METODE PENUGASAN
2.      UNTUK MEMEHAMI KONSEP MPKP
3.      DAPAT MENERAPKAN KONSEP MPKP

III.           SISTEMATIKA PENULISAN

Adapun sistematika penulisan makalah ini :

BAB I PENDAHULUAN
          Bab ini berisi latar belakang masalah, tujuan penulisan, serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN TEORITIS
          Bab ini berisi tentang pengertian MAKP, jenis MAKP, pengertian MPKP, sejarah MPKP, tingkatan MPKP, pengembangan dan struktur organisasi MPKP, rencana implementasi MPKP, serta kegiatan dalam MPKP.

BAB III PENUTUP
            Bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil makalah.












BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.                     PENGERTIAN MAKP

                     Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).

B.                     JENIS MAKP

1.     METODE FUNGSIONAL

a.      Pengertian

Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan 1 – 2 jenis intervensi keperawatan kepada semua pasien di bangsal. Model ini berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan, perawat melaksanakan tugas ( tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada (Nursalam, 2002).

b.      Kerugian metode fungsional:
Ø       Pasien mendapat banyak perawat.
Ø       Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan
Ø       Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan.
Ø       Pelayanan terputus-putus
Ø       Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai

c.       Kelebihan dari metode fungsional :

Ø  Sederhana
Ø  Efisien.
Ø Perawat terampil untuk tugas atau pekerjaan tertentu.
Ø Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai tugas.
Ø Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang
berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana.
Ø   Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staff atau peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.

d. Struktur Organisasi





BAGAN
Perawat  A ugas menyutik, perawat B tugasnya mengukur suhu badan klien. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien


2.     METODE  KASUS

a.     Pengertian

Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi, intensive care.Metode ini berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi keperawatan. Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan observasi pada pasien tertentu (Nursalam, 2002).

b.      Kekurangan metode kasus :

·       Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara menyeluruh
·        Membutuhkan banyak tenaga.
·        Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan.
·        Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penaggung jawab klien bertugas.

c.       Kelebihan metode kasus:

·      Kebutuhan pasien terpenuhi.
·       Pasien merasa puas.
·       Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat.
·       Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai.


d. Struktur organisasi








3.     METODE PRIMER
a.      Pengertian
Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.

b.      Tugas perawat primer adalah :
- Menerima pasien
- Mengkaji kebutuhan
- Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi.
- Mengkoordinasi pelayanan
- Menerima dan menyesuaikan rencana
- menyiapkan penyuluhan pulang

c.       Konsep dasar :
1.  Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
2.   Ada otonomi.
3.   Ada keterlibatan pasien dan keluarganya

d.      Ketenagaan :
1.  Setiap perawat primer adalah perawat bed. side.
2.  Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat
3.  Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
4.  Perawat profesional sebagai primer dan perawat non profesional sebagai asisten.

e.      Kepala bangsal :
1.   Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer
2.   Orientasi dan merencanaka karyawan baru.
3.   Menyusun jadwal dinas
4.   Memberi penugasan pada perawat asisten.

f.         Kelebihan dari metode perawat primer:

ü       Mendorong kemandirian perawat.
ü      Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat
ü      Berkomunikasi langsung dengan Dokter
ü      Perawatan adalah perawatan komfrehensif
ü      Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.
ü      Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
ü       Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.

g.      Kelemahan dari metode perawat primer:

ü      Perlu kualitas dan kuantitas tenaga perawat
ü      Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional.
ü      Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.



4.METODE TIM

a. Pengertian 
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya.
Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien.
Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.

b. Ketenagaan dari tim ini terdiri dari :

v      Ketua tim
v     Pelakaana perawatan
v     Pembantu perawatan

Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia.

c.  Kelebihan metode tim:
                                   
v     Saling memberi pengalaman antar sesama tim.
v     Pasien dilayani secara komfrehesif
v     Terciptanya kaderisasi kepemimpinan
v     Tercipta kerja sama yang baik .
v     Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
v      Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.

d.Kekurangan metode tim:

v     Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
v     Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat.
v     Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
v     Akontabilitas dalam tim kabur.



5.  METODE MODUL (DISTRIK)

a.      Pengertian

Yaitu metode gabungan antara Metode penugasan tim dengan Metode perawatan primer. Metode ini menugaskan sekelompok perawat merawat pasien dari datang sampai pulang.
b.      Keuntungan dan Kerugian :
Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode perawat primer.






6.  METODE MPKP

1.      PENGERTIAN MPKP
Suatu sistem (Struktur, Proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart&Woods, 1996 dalam Sitorus,2005).

2.      SEJARAH MPKP
Proses Profesionalisme keperawatan di Indonesia
(Lokakarya Keperawatan Nasional 1983)


Profesionalisme dalam asuhan keperawatan
(UU Perlindungan konsumen (1999), UU 1992)


Upaya-upaya untuk meningkatkan mutu Asuhan keperawatan


Dikembangkan MPKP Di Indonesia

Peningkatan profesionalisme keperawatan di Indoneasia dimulai sejak diterima dan diakui sebagai suatu profesi pada Lokakarya Nasional Keperawatan (1983). Sejak itu berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan, dan organisasi profesi dengan terus mengembangkan keperawatan diantaranya membuka pendidikan pada tingklat sarjana, mengembangkan kurikulum keperawatan dan mengembangkan standar praktik keperawatan.







3.        TINGKATAN MPKP

MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada yaitu:




Keterangan :
  1. Model praktek Keperawatan Profesional III
Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional dan ada yang sudah doktor, sehingga praktik keperawatan berdasarkan evidence based. Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian keperawatan, khususnya penelitian klinis.
  1. Model Praktek Keperawatan Profesional II
Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. Di ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan penelitian keperawatan.
  1. Model Praktek Keperawatan Profesional I
Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan, metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. Metode yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer.
  1. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula
Model ini menyerupai MPKP I, tetapi baru tahap awal pengembangan yang akan menuju profesional I.

4.      PENGEMBANGAN DAN STRUKTUR ORGANISASI MPKP

a.              PENGEMBANGAN

                                     Struktur                                                Proses
1.    Jumlah Tenaga                                    4. Metode Modifikasi
2.    Jenis Tenaga                                           Keperawatan
3.    Standar tenaga                                       Primer


 


                                          
                                               Hubungan Perawat-Klien/Keluarga


 


                            
                                   Tanggung Jawab
                                     Berkesinambungan                     &
                                                                               Tanggung Gugat


 


                                                      Nilai-nilai Profesional




Nilai-nilai profesional :

     Nilai-nilai yang harus memainkan peran penting dalam profesionalisasi keperawatan dan keperawatan praktis, juga memiliki dampak strategis dalam penerimaan atau penolakan oleh masyarakat profesional.
Mereka mungkin akan terdaftar sebagai; estetika - dalam hal, peristiwa dan karakteristik pribadi yang menghasilkan rasa kepuasan mendalam, altruisme - usaha aktif untuk 'manfaat bagi orang lain, kesetaraan - memiliki hak yang sama, hak istimewa atau posisi, kebebasan - kapasitas untuk memutuskan, martabat manusia - keyakinan individu sebuah keunikan dan nilai-nilai, keadilan - menghormati dan hukum prinsip moral, kebenaran - kepatuhan terhadap fakta atau realitas. Nilai penting dapat dijelaskan oleh beberapa kualitas pribadi dan sikap.
Sebuah Estetika mencakup kualitas pribadi seperti sensitivitas, kreativitas, imajinasi dan dapat tercermin dalam mengadaptasi lingkungan sehingga menyenangkan pasien. Altruisme mencakup kualitas pribadi seperti kepedulian, kasih sayang, kemurahan hati dan dapat tercermin dalam mengekspresikan kekhawatiran tentang tren sosial dan isu-isu yang memiliki implikasi untuk perawatan kesehatan.  Kualitas mencakup kualitas pribadi seperti keadilan, toleransi, harga diri, dan dapat dijelaskan sebagai perawat interaksi dengan provider lain dengan cara yang tidak diskriminatif. Reedom  mencakup kualitas pribadi seperti kepercayaan, harapan, kemandirian, keterbukaan, dan dapat dijelaskan sebagai individu untuk menghormati hak untuk menolak pengobatan. Martabat Uman mencakup kualitas pribadi seperti pertimbangan, empati, kemanusiaan, kebaikan, rasa hormat, kepercayaan, dan dapat tercermin dalam menjaga individu hak privasi, dan dalam memperlakukan orang lain dengan hormat, terlepas dari latar belakang. Justice  mencakup kualitas pribadi seperti keberanian, integritas, obyektifitas, dan dapat tercermin dalam bertindak sebagai advokat perawatan kesehatan, dan dalam mengalokasikan sumber daya yang cukup. Ruth mencakup kualitas pribadi seperti kejujuran, rasionalitas, akuntabilitas, keaslian, dan dapat dijelaskan sebagai untuk mendokumentasikan asuhan keperawatan secara akurat dan jujur. Nilai-nilai profesional baru yang mengarah ke reevaluasi tak terhindarkan dari model hubungan pasien-perawat serta pemahaman kita tentang apa keperawatan. Model keperawatan modern telah menghasilkan preferensi untuk hubungan kontemporer yang menyajikan tanggung jawab bersama di tempat hubungan pasien-perawat satu arah dan sabar berpusat keperawatan di tempat dokter-berpusat (6-12).
Nilai-nilai Personal Perawat :
Ø      Kejujuran dan kepercayaan
Ø      Menghormati dan kemanusiaan
Ø      Kemerdekaan dan persamaan
Ø      Kompetensi dan keadilan
Ø      Kebajikan
Ø      Rasionalitas dan altruisme
Ø      Ekonomis daya
Ø      Sensitivitas
Ø      Pengetahuan
Ø      Kebenaran dan keberanian
Ø      Diligence
Ø      Persahabatan dan kesatuan
Ø      Toleransi
Ø      Adoptivity dan happiness
Nilai-nilai Profesional menurut Pribadi dan Profesional Nilai dan Sikap Perawat    :
ü      Nilai profesional
ü      Martabat manusia
ü      Kebenaran
ü      Kebebasan dan keadilan
ü      Etestika, altruime dan equality

Nilai profesional dari Perawat Ideal dalam pikiran The Berpartisipasi Perawat :

·           Altruisme dan estetika

·           Kebenaran dan kebebasan

·           Keadilan dan persamaan

·           Martabat manusia










b.              STRUKTUR ORGANISASI
                                                 Kepala Ruang Rawat


 

                                                                                         C. C. M



 

           PP 1                                           PP 2                                             PP 3
           
                 PA                                          PA                                              PA
 Pagi
                 PA                                          PA                                              PA
 
     
                PA                                          
 Sore                                                        PA                                              PA
                PA             









 

           
                                                                PA
Malam    PA                                                                                                PA
                                                                PA
     

                                                           
Libur        PA                                           PA                                              PA
                

Cuti          PA                                           PA                                              PA      









 

           
           9-10 klien                                9-10 klien                                 9-10 klien


C.     JOB DESCRIPTION MASING-MASING  PERAN

1)        Kepala Ruangan, tugasnya :
       Merencanakan pekeriaan, menentukan kebutuhan perawatan pasein, membuat penugasan, melakulan supervisi, menerima instruksi dokter.

2)        Perawat staf :
·          Melakukan askep langsung pada pasien
·          Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga keperawatan
3)        Perawat Pelaksana :
       Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang, pasein dalam masa pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL).

4)         Pembantu Perawat :
        Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk mandi, menbenahi tempat tidur, dan membagikan alat tenun bersih.


5)             Tenaga Admionistrasi ruangan
       Menjawab telpon, menyampaikan pesan, memberi informasi, mengerjakan pekerjaan administrasi ruangan, mencatat pasien masuk dan pulang, membuat duplikat rostertena ruangan, membuat permintaan lab untuk obat- obatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala ruangan.



5.    RENCANA IMPLEMENTASI MPKP

a.    MENGHITUNG JUMLAH TENAGA













Jumlah
Klien
Klasifikasi Klien
Minimal
parsial
Total
pagi
siang
Malam
pagi
siang
malam
pagi
siang
malam
1.
2.
3.
Dst
0,17
0,34
0,51
0,14
0,28
0,42
0,07
0,14
0,21
0,27
0,54
0,81
0,15
0,30
0,45
0,10
0,20
0,30
0,36
0,72
1,08
0,30
0,60
0,90
0,20
0,40
0,60












Jumlah kebutuhan perawat setiap hari
7,11 + 5,28 + 3,35 = 15,74 → 15 orang
Libur / cuti    ± 5 orang
Jumlah tenaga yang dibutuhkan
15 + 5 = 20 orang + Ka. Ruang Rawat + 3 Orang Perawat Primer
            = 24 Orang




b.   MENENTUKAN JENIS TENAGA



c.    MENENTUKAN STANDAR RENCANA KEPERAWATAN


Dikembangkan untuk kasus yang paling sering dirawat di suatu ruang rawat. Pengembangan ini bertujuan mengurangi waktu perawat untuk menulis, sehingga waktu yang tersedia lebih banyak dilakukan untuk melakukan tindakan sesuai kebutuhan klien. Adanya standar rencana keperawatan menunjukkan asuhan keperawatan yang diberikan berdasarkan pada konsep dan teori keperawatan yang kukuh, yang merupakan salah satu karakteristik layanan profesional. Standar rencana keperawatan tersebut akan divalidasi oleh PP berdasarkan pengkajian yang dilakukan untuk setiap klien. Selanjutnya rencana yang sudah divalidasi, dibahas dengan PA dalam timnya dan mengarahkan PA pada pelaksanaan tindakan keperawatan.



6.    KEGIATAN DALAM MPKP       

a.       TIMBANG TERIMA

                     Adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan klien, bertujuan :

a. Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien
b. Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya
c. Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya.
                                          
PROSEDUR TIMBANG TERIMA

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi :

a. Persiapan

1) Kedua kelompok dalam keadaan siap
2) Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan

b. Pelaksanaan

 Dalam penerapannya, dilakukan timbang terima kepada masing-masing penanggung jawab:
§        Timbang terima dilaksanakan setiap penggantian shift/operan
§        Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan.
§         Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat yang berikutnya


Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :
ü      Identitas klien dan diagnosa medik
ü     Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul
ü     Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan
ü     Intervensi kolaborasi dan dependensi
ü     Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya, misalnya operasi, pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya, persiapan untuk konsultasi atau prosedur lainnya yang tidak dilaksanakan secara rutin.

                     Perawat yang melakukan timbang terima daat melakukan klarifikasi, tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas. Penyampaan pada saat timbang terima secara singkat dan jelas. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci. Pelaporan untuk timang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan oleh perawat. Penyampaian operan di atas (point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru. Perawat penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara langsung melihat keadaan kien.

b.       PRECONFERENCE

Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ka primer atau penanggung jawab primer. Jika yang dinas pada primer tersebut hanya 1 orang, maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan tambahan rencana dari kepala primer dan penanggung jawab primer. (Modul MPKP,2006)

Waktu              : Setelah operan
Tempat : meja masing-masing primer
PJ                    : Kepala primer atau penanggung jawab primer
Kegiatan           :

a.       Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara
b.      Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan rencana harian masing-masing perawat pelaksana
c.       Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu
d.      Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan reinforcement
e.       Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara



c.        POST CONFERENCE

Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikutnya. Isinya adalah hasil asuhan keperawatan tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh kepala primer atau penanggung jawab primer. (Modul MPKP, 2006)

Waktu              : sebelum operan ke dinas berikutnya
Tempat : meja masing-masing primer
PJ                    : kepala primer atau penanggung jawab primer
Kegiatan           :
a.       Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara
b.      Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan
c.       Kepala primer atau penanggung jawab primer menyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikut nya
d.      Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara


d.       RONDE KEPERAWATAN

                     Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping klien dilibatkan untuk mermbahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus terntentu harus dilakukan oleh penanggung jawab jaga dengan melibatkan seluruh anggota tim.

Karakteristik :

Ø          Klien dilibatkan secara langsung
Ø          Klien merupakan fokus kegiatan
Ø          Perawat aosiaet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama
Ø          Kosuler memfasilitasi kreatifitas
Ø          Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet, perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.


Tujuan :
ü      Menumbuhkan cara berfikir secara kritis
ü      Menumbuhkan pemikran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien
ü      Meningkatkan vadilitas data klien
ü      Menilai kemampuan justifikasi
ü      Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja
ü       Meningkatkan kemampuan untuk emodifikasi rencana perawatan.


Peran Perawat Primer Dan Perawat Asosiet

       Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain :

a. Menjelaskan keadaan dan adta demografi klien
b. Menjelaskan masalah keperawatan utama
c. Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan
d. Menjelaskan tindakan selanjtunya
e. Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil

Peran Perawat Primer Lain Dan Atau Konsuler

§        Memberikan justifikasi
§        Memberikan reinforcement
§        Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta,tindakan yang rasional
§        Mengarahkan dan koreksi
§         Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari

Pesiapan

a. Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde
b. Pemberian informed consent kepada klien/keluarga

Pelaksanaan Ronde
a.       Penjelasan tentang klien oleh Perawat dalam hal ini penjelasan difokuskan 2). pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan
b.      Pemberian justifikasi oleh perawat tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan
c.       Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan

Pasca Ronde

Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menerapkan tindakan yang perlu dilakukan.




e.       CASE STUDI

Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.
Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

Jenis-jenis Studi Kasus

a.       Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi
            tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan
           organisasinya. Studi mi sening kunang memungkinkan untuk diselenggarakan,
            karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.
b.      Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
c.       Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu onang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah. topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.
d.      Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.
e.       Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.
f.        Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar.



 Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus

a.       Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia
b.       Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak
c.       Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan
d.      Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada.
e.       Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok.




BAB III
PENUTUP
            Pelayanan keperawatan professional adalah pemberian asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan. Metode penugasan yang memungkinkan terlaksananya asuhan keperawatan secara professional diantaranya adalah metode Tim dan metode Perawat Primer. Mengingat metode perawatan primer diperlukan perawat yang mempunyai kompetensi yang tinggi (tingkat spesialis) dan jumlah yang cukup, sementara di Indonesia (utamanya RSCM) belum ada maka dalam MPKP digunakan metode PN dimodifikasi dengan pendekatan Tim (Primary team). Dalam pengorganisasiannya agar tujuan pelayanan keperawatan dapat tercapai dibutuhkan uraian tugas, tanggung jawab dan peran yang jelas dari masing-masing klasifikasi tenaga perawat yang ada yaitu sebagai kepala ruang, ketua tim, dan pelaksana (metode Tim) dan Kepala ruang, perawat primer dan perawat asosiat (MPKP).









































DAFTAR PUSTAKA





4.      Manajemen Bidang Keperawatan. (2000) Pusat Pengembangan keperawatan
Carolus. Jakarta
5.      Sahar, Juniati, Kumpulan Makalah Manajemen. (1995). PSIK FK UI. Jakarta


































MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL
( PRIMER )


Description: Poltekkes palembang


GUNA MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH MANAJEMEN KEPERAWATAN


DISUSUN OLEH  :

KELOMPOK

II

(5, 6, 7, 8)



TINGKAT  : II. A




KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEHNIK KESEHATAN PALEMBANG
JURUSAN KEPERAWATAN
2010/2011

            Role play ini menceritakan sebuah rumah sakit yang menggunakan Metoda Praktik Keperawatan Profesional yakni, RS. Slalu Bahagia yang terdiri dari kepala ruangan, perawat staff, perawat pelaksana dan tenaga administrasi.

Players :
1.      Dokter             :
2.      Ka. Ru             :
3.      Perawat staf     :
4.      PP pagi 1         :
5.      PP pagi 2         :
6.      PP pagi 3         :
7.      PP pagi 4         :
8.      PP siang 1        :
9.      PP siang 2        :
10.  PP siang 3        :
11.  PP siang 4        :
12.  PP malam 1      :
13.  PP malam 2      :
14.  PP malam 3      :
15.  PP malam 4      :
16.  Px 1                 :
17.  Kel. Px 1          :
18.  Px 2                 :
19.  Kel. Px 2          :
20.  Px 3                 :
21.  Kel. Px 3          :
22.  Px  VIP            :
23.  Kel. VIP          :
24.  OB                   :

            Disuatu pagi terlihat seorang Ka. Ru sedang berdiskusi dengan perawat staff, dimana dia sedang mengisi status pasien 1 dengan gastritis kronik.

Ka. Ru             : mbak, bagaimana keadaan pasien-pasien kita.?  Apakah ada kemajuan .?
Ps                    : alhmdulillah, berkat askep yang kita berikan smua pasien terlihat membaik.
Ka. Ru             : ooh bagus kalau begitu, baik ini ada jadwal untuk yang bertugas pagi, siang  dan malam, nanti tolong beritahukan pada rekan-rekan perawat yang lain, agar  dapat bekerja dengan sebaik mungkin.
Ps                    : baiklah, nanti akan saya sampaikan.
Ka. Ru             : terima kasih, saya permisi keruangan.
Ps                    : iya. (tersenyum)

Tak lama kemudian, datanglah PP pagi.

Pp pagi 1          : selamat pagi mbak..
Ps                    : pagi.. ohya,, ne jadwal yang bertugas pada hari ini.
Pp pagi 2          : baik, ada berapa pasiennya.?
Ps                    : ada 3 pasien. Baiklah, kalau begitu mari kita langsung menemui mereka.
Pp pagi 3          : mari.

            Diruamgan pasien ( melati ).

Ps                    : nah, ini ruangan melati ada 2 pasien yaitu, px 1 gastritis kronik dan px 2 dengan DBD .  Permisi bu, ini perawat-perawat yang bertugas pada pagi ini, ada 4 orang, jadi kalau ada apa-apa bisa minta bantuan mereka.
Kel. Px 1          : baiklah, terima kasih sus..
All Perawat      : (tersenyum)
Ps                    : permisi.

            Diruangan pasien ( mawar ).

Ps                    : ini ruangan mawar hanya 1 pasien dengan diare. Pagi bu, ini perawat yang bertugas pagi ini ada 4 orang. Ibu bisa minta bantuan mereka
Kel. Px 3          : terima kasih.

            Diruangan pasien VIP.

Ps                    : ini pasien terakhir dengan hepatitis. Permisi, selamat pagi. Ini perawat yang bertugas pagi ini ada 4 orang, kalau perlu bantuan silahkan minta dengan mereka.
Kel. Px VIP     : baik, terima kasih.

            Setelah pasien diperkenalkan, perawat pun kembali keruanagan perawat. Para perawat pagi pun sibuk berbagi dan melaksanakan tugasnya masing-masing.

Pp pagi 4          : baiklah teman-teman, sekarang saatnya kita berbagi. Siapa yang akan memberikan iv ke px 1, 2, 3 dan VIP.
Pp pagi 3          : saya ke ruangan melati.
Pp pagi 2          : saya ruangan sebelah saja, VIP.
Pp pagi 1          : oke, hem.. saya pikir pp pagi 4 standby druangan saya akan ke ruangan mawar. Bagaimana.?
Pp pagi 4          : baiklah, saya setuju.

            Para perawat pun bergegas keruangan pasien.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar